TRANSLATE HERE

Selasa, 08 November 2016

PERBEDAAN MENDASAR RANCANGAN PEMBELAJARAN KTSP DAN KURIKULUM 2013 (untuk memenuhi tugas Dr. Dirgantara Wicaksono, M.Pd )

PERBEDAAN MENDASAR RANCANGAN PEMBELAJARAN KTSP DAN KURIKULUM 2013


K-13  secara resmi diberlakukan pada tanggal 15 Juli 2013. Sedangkan implementasinya diterapkan pada tahun ajaran 2013/2014 di sekolah tertentu atau masih belum semua sekolah. Dulu hingga saat ini, kita mengenal dengan apa yang namanya KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang sudah mulai diberlakukan sejak tahun ajaran 2007/2008. Kalau sama – sama dicermati, perbedaan paling dasar antara Kurikulum 2013 dengan KTSP. Dalam KTSP, kegiatan pengembangan silabus merupakan kewenangan satuan pendidikan, namun dalam Kurikulum 2013 kegiatan pengembangan silabus beralih menjadi kewenangan pemerintah, kecuali untuk mata pelajaran tertentu yang secara khusus dikembangkan di satuan pendidikan yang bersangkutan. 

Namun dibalik perbedaan tersebut, sebenarnya juga memiliki kesamaan antara Kurikulum 2013 dengan KTSP. Misalnya tentang pendekatan ilmiah (Scientific Approach) yang pada hakekatnya yaitu pembelajaran yang selalu berpusat pada siswa. Siswa menggali pengetahuan tapi bukan menerima pengetahuan. Pendekatan ini mempunyai tujuan yang sama dengan Pendekatan Keterampilan Proses (PKP).  Masalah pendekatan sebenarnya bukan masalah kurikulum, tetapi masalah implementasi yang tidak jalan di kelas. Bisa jadi pendekatan ilmiah yang diperkenalkan di Kurikulum 2013 akan bernasib sama dengan pendekatan-pendekatan kurikulum terdahulu bila guru tidak paham dan tidak bisa menerapkannya dalam pembelajaran di kelas.

Kurikulum 2013 sudah diimplementasikan pada tahun pelajaran 2013/2014 pada sekolah-sekolah tertentu (terbatas). Kurikulum 2013 diluncurkan secara resmi pada tanggal 15 Juli 2013. Sesuatu yang baru tentu mempunyai perbedaan dengan yang lama. Begitu pula kurikulum 2013 mempunyai perbedaan dengan KTSP. Berikut ini adalah perbedaan kurikulum 2013 dan KTSP.

No
Kurikulum 2013
KTSP
1
SKL  (Standar Kompetensi Lulusan) ditentukan terlebih dahulu, melalui Permendikbud No 54 Tahun 2013. Setelah itu baru ditentukan Standar Isi, yang bebentuk Kerangka Dasar Kurikulum, yang dituangkan dalam Permendikbud No 67, 68, 69, dan 70 Tahun 2013
Standar Isi ditentukan terlebih dahulu melaui Permendiknas No 22 Tahun 2006. Setelah itu ditentukan SKL (Standar Kompetensi Lulusan) melalui Permendiknas No 23 Tahun 2006
2
Aspek kompetensi lulusan ada keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan
lebih menekankan pada aspek pengetahuan
3
di jenjang SD Tematik Terpadu untuk kelas I-VI
di jenjang SD Tematik Terpadu untuk kelas I-III
4
Jumlah jam pelajaran per minggu lebih banyak dan jumlah mata pelajaran lebih sedikit dibanding KTSP
Jumlah jam pelajaran lebih sedikit dan jumlah mata pelajaran lebih banyak dibanding Kurikulum 2013
5
Proses pembelajaran di jenjang SD dan semua mata pelajaran di jenjang SMP/SMA/SMK dilakukan dengan pendekatan ilmiah (saintific approach),  standar proses dalam pembelajaran terdiri dari Mengamati, Menanya, Mengolah, Menyajikan, Menyimpulkan, dan Mencipta.
Standar proses dalam pembelajaran terdiri dari Eksplorasi, Elaborasi, dan Konfirmasi
6
TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) bukan sebagai mata pelajaran, melainkan sebagai media pembelajaran
TIK sebagai mata pelajaran
7
Standar penilaian menggunakan penilaian otentik, yaitu mengukur semua kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil.
Penilaiannya lebih dominan pada aspek pengetahuan
8
Pramuka menjadi ekstrakuler wajib
Pramuka bukan ekstrakurikuler wajib
9
Pemintan (Penjurusan) mulai kelas X untuk jenjang SMA/MA
Penjurusan mulai kelas XI
10
BK lebih menekankan mengembangkan potensi siswa
BK lebih pada menyelesaikan masalah siswa
11
Mata pelajaran dirancang berdiri sendiri dan memiliki kompetensi dasar sendiri
Mata pelajaran dirancang terkait satu dengan yang lain dan memiliki kompetensi  dasar yang diikat oleh kompetensi inti tiap kelas
12
Bahasa Indonesia sejajar dengan mapel lain
Bahasa Indonesia sebagai penghela mapel lain (sikap dan keterampilan berbahasa)
13
Tiap mata pelajaran diajarkan dengan pendekatan berbeda
Semua mata pelajaran diajarkan dengan pendekatan yang sama (saintifik) melalui mengamati, menanya, mencoba, menalar…
14
Tiap jenis konten pembelajaran diajarkan terpisah
Bermacam jenis konten pembelajaran diajarkan terkait dan terpadu satu sama lainKonten ilmu pengetahuan diintegrasikan dan dijadikan penggerak konten pembelajaran lainnya
15
Tematik untuk kelas I-III (belum integratif)
Tematik integratif untuk kelas I-III
16
TIK mata pelajaran sendiri
TIK merupakan sarana pembelajaran, dipergunakan sebagai media pembelajaran mata pelajaran lain
17
Bahasa Indonesia sebagai pengetahuan
Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dan carrier of knowledge


Itulah beberpa perbedaan Kurikulum 2013 dan KTSP. Walaupun kelihatannya terdapat perbedaan yang sangat jauh antara Kurikulum 2013 dan KTSP, namun sebenarnya terdapat kesamaan ESENSI Kurikulum 2013 dan KTSP. Misal pendekatan ilmiah (Saintific Approach) yang pada hakekatnya adalah pembelajaran berpusat pada siswa. Siswa mencari pengetahuan bukan menerima pengetahuan. Pendekatan ini mempunyai esensi yang sama dengan Pendekatan Keterampilan Proses (PKP).  Masalah pendekatan sebenarnya bukan masalah kurikulum, tetapi masalah implementasi yang tidak jalan di kelas. Bisa jadi pendekatan ilmiah yang diperkenalkan di Kurikulum 2013 akan bernasib sama dengan pendekatan-pendekatan kurikulum terdahulu bila guru tidak paham dan tidak bisa menerapkannya dalam pembelajaran di kelas.

CONTOH DESAIN PEMBELAJARAN GERLACH DAN ELY PADA MAPEL IPA SD (untuk memenuhi tugas Dr. Dirgantara Wicaksono, M.Pd )

Aplikasi Model Gerlach dan Ely dalam Penyusunan Desaian Pembelajaran
Berikut adalah contoh dari penerapan Model Gerlach dan Ely dalam penyusunan desaian pembelajaran untuk mata pelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) Sekolah Dasar

Nama Sekolah                   : SD Negeri
Mata Pelajaran                  : Ilmu Pengetahuan Alam
Kelas/Semester                  : III/I (Ganjil)
Alokasi Waktu                   : 2 X 35 menit
a.          Merumuskan Tujuan Pembelajaran

Standar Kompetensi      : Memahami ciri-ciri dan kebutuhan makhluk hidup serta hal-hal yang mempengaruhi perubahan pada makhluk hidup.
Kompetensi dasar           : Mengidentifikasi ciri-ciri dan kebutuhan makhluk hidup.
Indikator :
·         Mengidentifikasi ciri-ciri dan kebutuhan makhluk hidup
·   Membedakan antara makhluk hidup dan makhluk tak hidup berdasarkan pengamatan ciri-cirinya.

b.          Menentukan Isi Pelajaran
1.       Ciri-ciri makhluk hidup
2.       Kebutuhan mahkluk hidup
3.       Perbedaan makhluk hidup dan tak hidup
4.       Cara memelihara hewan dan tumbuhan dengan baik

c.           Penilaian Kemampuan Awal Siswa
1.       Guru Memberikan Pretest
Pretest dilakukan untuk mengetahui apa yang sudah dan belum diketahui siswa tentang ciri Makhluk Hidup, Perbedaan nya, lalu kebutuhan nya, dan cara memelihara
2.       Data Tentang Pengetahuan Awal/Kesiapan
Pertanyaan yang ditujukan ke siswa:
1.       Bagaimana Seekor hewan bila dikatakan hidup?
2.       Apa bedanya makhluk hidup dan mati?
3.       Membutuhkan apa saja manusia supaya bisa hidup?
4.       Bagaimana cara merawat tanaman ?

d.          Menentukan Strategi Pembelajaran
Tahap I. Ekspositori ( 1 x 15 menit), tentang Field tentang ciri Makhluk Hidup, Perbedaan nya, lalu kebutuhan nya, dan cara memeliharanya
Tahap II. Demonstrasi ( 1 x 20 menit), tentang cara mengetahui makhluk hidup, membedakan langsung makhluk hidup dan mati, merawat makhluk hidup seperti tumbuhan hewan serta membawakan apa saja yang dibutuhkan sebagai penunjang kehidupan makhluk tersebut.
Tahap III. Latihan praktik ( 1 x 30 menit),
 mempraktikkan cara :
·         Memberi makan kepada hewan dan menyirami tumbuhan sebagai kebutuhannya
·         Melihat langsung tumbuhan yang mati atau makhluk yang bisa terancam kehidupan nya jika tidak dipenuhi kebutuhannya melalui gambar atau langsung
Tahap IV. Diskusi dan review (2 x 15menit), Memberikan evaluasi dengan pertanyaan kecil di dalam praktik
e.       Pengelolaan Kelas
Kelas dibagi ke dalam 3 (tiga) kelompok
Kelompok I:
Mendapat Tugas Mengumpulkan Gambar Makhluk Hidup dan Mati Beserta Cirinya
Kelompok II:
Membawa Kebutuhan Makhluk Hidup Seperti Air, Tanah, dan Makanan Bergizi
Kelompok III:
Membawa tanaman tanaman sebagai media makhluk hidup
f.       Pembagian Waktu
Jumlah pertemuan untuk pembelajaran ini untuk 1 kali pertemuan 2x35 menit
g.      Penyiapan Ruang
Seluruh proses pembelajaran berlangsung di dalam satu ruangan laboratorium komputer. Dengan menampung sebanyak 36 siswa. Ruang ini dilengkapi dengan 38 komputer, whiteboard, dan LCD proyektor.
h.      Penyediaan Media Pembelajaran
1)      Buku teks:
2)      Perlengkapan:
Tanaman, Air, Makanan, Tumbuhan, Gambar Gambar terkait, LCD proyektor
i.        Penilaian
Berbentuk format laporan yang dibuat guru dan telah dijelaskan sebelumnya
j.        Analisis Umpan Balik
Kegiatan evaluasi tidak semata-mata membuat soal, tetapi meliputi pengumpulan data mengenai kegiatan proses pelajaran, aktivitas siswa selama proses pembelajaran, memonitor proses pembelajaran, serta mengukur tercapai tidaknya hasil belajar para siswa. Evaluasi merupakan proses kegiatan yang menghasilkan laporan untuk kemudian dianalisis serta memperoleh umpan balik berupa informasi apakah tujuan pembelajaran sudah tercapai atau belum. Jika tujuan pembelajaran belum tercapai, maka harus dicari kelemahannya dan dilakukan remedial. Kegiatan evaluasi di dalam proses pembelajaran itu bukan semata-mata menilai para siswa saja, melainkan juga ditujukan pada sistem pembelajaran yang dilakukan.


Senin, 07 November 2016

RENCANA HIDUP

Saya, Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) sempat terlintas di dalam benak saya apa arti sukses itu dan apakah saya akan sukses dan saat itu juga saya yakin saya akan sukses, ya sukses itu relatif setidaknya saya akan sukses sesuai standar minimal saya biarkan orang menilai saya tidak sukses karna menurut saya sukses itu adalah ketika kita terus mengejar sukses itu walau sudah tercapai apa yang kita inginkan sukses yang lebih besar dan lebih besar lagi harus saya raih.

Di hari hari yang penuh dengan misteri saya terus mencari apa arti sukses yang saya kejar agar bisa saya kejar dan menjadi arah tujuan hidup saya, sebelum kita menentukan arah tetunya saya harus menemukan dan menuliskan sebuah rencana hidup mulai dari saat ini ya hanya sebuah prediksi tetapi saya harus mengejarnya, memang menurut orang lain ini tidaklah penting tapi mudah mudahan dapat memberi inspirasi bahwa kita sebagai manusia harus memiliki arah hidup dan mengartikan sukses seperti apa yang harus kita kejar.

SAYA
FARHAN PRAKOSO
Mahasiswa UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
Memiliki rencana hidup sebagai berikut

Rencana Hidup

Saat ini saya berumur 20 tahun saya memiliki sebuah rencana hidup beberapa tahun kedepan sebagai berikut

2 tahun kedepan : Insya Allah jika saya lulus dan mendapat predikat Sarjana Pendidikan saya akan mengembangkan karir saya di dunia pendidikan saecara fokus dan lebih percaya diri diselingi usaha yang akan saya bangun guna menambah pundi pundi finasial saya agar dapat melanjutkan study S2 saya sebagai langkah saya mengembangkan ilmu saya dikemudian hari Insya Allah Aamiin.

5 tahun Kedepan : jikalau S2 saya berhasil saya selesaikan saya akan mencoba kembali berkumpul dengan dengan teman saya berdiskusi dan membahas bagaimana membuat rancangan sebuah sekolah atau setidaknya sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan agar hasil kuliah saya dapat terus dikembangkan dan di aplikasikan kepada masyarakat, saya akan membangun sekolah dengan sebuah gagasan dimana sekolah tersebut mengasah skill berwira usaha dan kemampuan bertahan hidup disertai pemahaman Agama agar tidak tergerus oleh kerasnya era Globalisasi saat ini

8 Tahun kedepan : Terhitung sejak saya lahir saya akan terus membahagiakan orang tua baik itu lahir maupun batin terlebih  Bila seluruh kemampuan baik finansial dan bekal dalam mengembangkan pendidikan saya sudah tercapai syukur jika itu lebih cepat dari prediksi saya akan berangkat bersama orang tua saya untuk segera memberangkatkan orang tua saya ke tanah suci guna melaksanakan rukun islam yang ke 5 yaitu ibadah haji serta menyempurnakan ibadah saya dengan menghalalakan seseorang ketika pulang dari sana.

10 tahun kedepan : saya akan membangun keluarga kecil dan melanjutkan seluruh usaha saya baik di dunia pendidikan maupun dalam dunia wiraswasta insya Allah Aamiin

    Demikian adalah sebuah rumusan perencanaan hidup yang saya buat guna terarah nya sebuah jalan hidup yang akan saya kejar dan akan saya laksanankan dengan sebaik baiknya dan mudah mudahan pun para pembaca dapat melaksanakan dan mencapai apa yang dicita cita kan Aamiin.

GERLACH AND ELY INSTRUCTIONAL DESIGN untuk memenuhi tugas Dr. Dirgantara Wicaksono, M.Pd

GERLACH AND ELY INSTRUCTIONAL DESIGN

Farhan Prakoso (2014820236)
Fakultas Ilmu Pendidikan (PGSD), Universitas Muhammadiyah Jakarta
Email : Farhanosokarp@gmail.com

Abstract : Education is important in life, because with education, life on earth would be more intelligent, nowadays a lot of things that make education more interesting, one of which is to make a wide variety of learning design, and instructional models to aim, enables teachers to deliver and the success of the purpose of education itself. Gerlach and Ely answered the challenge of it all, because with an instructional models developed, learning more interesting and effective

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

        Model pembelajaran merupakan suatu rancangan untuk menjembatani suatu pembelajaran agar tujuan pendidikan bisa dicapai dengan apa yang diharapkan dan didambakan. setiap model-model pembelajaran yang diciptakan dan dikembangkan oleh para ahli dan pakar terkait pendidikan, beraneka jenis, spesifikasi, dan dari berbagai macam model tersebut tentu akan mempengaruhi perkembangan dunia pendidikan anak sekolah dasar. Beberapa desain model pembelajaran yang digunakan para guru, adalah model pembelajaran Gerlach dan Ely. model ini sering digunakan dan diaplikasikan untuk semua jenjang pendidikan termasuk untuk jenjang tingkat perguruan tinggi. Mengapa demikian, karena di dalamnya terdapat sebuah rumusan penentuan strategi yang cara penyampaiannya disesuaikan oleh siswa dalam menyerap materi. Tetapi sepenuhnya tergantung pada diri si guru/pendidik. gunakanlah sebuah model pembelajaran yang sesuai dengan diri anda khusunya para guru dan sesuaikan pula dengan tingkat kebutuhan siswa dan beragam karakter yang harus disesuikan lalu beban beban yang harus dipertimbangkan guna menghadapinya, karena setiap satuan tugas sekolah yang satu dengan sekolah yang lain berbeda tingkat kebutuhannya. model pembelajaran yang berhasil adalah model pembelajaran yang dapat membawa siswa ke arah situasi belajar yang baik. sehingga siswa dapat menelaah dan memahami dengan benar setiap proses belajarnya. Dengan demikian, diharapkan perkembangan belajar anak di sekolah dasar dapat dengan normal berkembang pesat tanpa adanya kendala. Artikel ini dibuat untuk memberikan betapa pentingnya sebuah desain pembelajaran dan memberikan pemahaman tentang salah satu model pembelajaran yang ada yaitu model Gerlach dan Ely yang mudah mudahan dapat membantu para guru guna menghantarkan pembelajaran kepada tujuan pembelajaran itu sendiri, karna sebuah pembelajaran akan terasa hambar jika tidak diselingi kreatifitas guru dalam mengaplikasikan sebuah model pembelajaran agar tujuan pebelajaran dapat berlangsung menyenangkan efektif dan efisien lalu dengan dibuatnya artikel ini diharapkan para pembaca tidak hanya mengetahui, tetapi juga terus mengembangkan isi dari model ini.


PEMBAHASAN

A. Model Pengembangan Gerlach dan Ely

         Model pembelajaran Gerlach dan Ely merupakan suatu metode perencanaan pengajaran yang sistematis. Model ini menjadi suatu garis pedoman atau suatu peta perjalanan pembelajaran karena dalam model ini diperlihatkan keseluruhan proses belajar mengajar yang baik, sekalipun tidak menggambarkan secara rinci setiap komponennya. Dalam model ini juga diperlihatkan hubungan antara elemen yang satu dengan yang lainnya serta menyajikan suatu pola urutan yang dapat dikembangkan dalam suatu rencana untuk mengajar.
  Model yang dikembangkan oleh Gerlach dan Ely (1971) dimaksudkan sebagai pedoman perencanaan mengajar. Pengembangan sistem instruksional menurut model ini melibatkan sepuluh unsur seperti terlihat dalam flow chart di halaman berikut.


Unsur-unsur dalam desain instruksional yang dikembangkan oleh Gerlach dan Ely

1) Merumuskan tujuan pembelajaran (specification of object)

           Tujuan instruksional harus dirumuskan dalam kemampuan apa yang harus dimiliki pada tingkat jenjang belajar tertentu. Tujuan pembelajaran harus bersifat jelas (tidak abstrak dan tidak terlalu luas) dan operasional agar mudah diukur dan dinilai.

2) Menentukan isi materi (specification of content)

             Bahan atau materi pada dasarnya adalah isi dari kurikulum yakni berupa mata pelajaran atau bidang studi, topic/sub topic dan rinciannya. Isi materi berbeda-beda menurut bidang studi, sekolah, tingkatan dan kelasnya, namun isi materi harus sesuai dengan tujuan yang hendak dicapainya. Pemilihan materi haruslah spesifik agar lebih mudah membatasi ruang lingkupnya dan dapat lebih jelas dan mudah dibandingkan dan dipisahkan dengan kelompok lainnya.

3) Menurut kemampuan awal/penilaian kemampuan awal siswa (Assesment of Entering behaviors) 

         Kemampuan awal siswa ditentukan dengan memberikan tes awal. Pengetahuan tentang kemampuan awal siswa ini penting bagi pengajar agar dapat memberikan dosis pelajaran yang tepat; tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah. Pengetahuan tentang kemampuan awal juga berguna untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan, misalnya apakah perlu persiapan remedial.

4) Menentukan teknik dan strategi (Determination of strategy)

        Menurut Gerlach dan Ely, strategi merupakan pendekatan yang dipakai pengajar dalam memanipulasi informasi, memilih sumber-sumber, dan menentukan tugas/peranan siswa dalam kegiatan belajar-mengajar. Dengan perkataan lain, pada tahap ini pengajar harus menentukan cara untuk dapat mencapai tujuan instruksional dengan sebaik-baiknya. Dua bentuk umum tentang pendekatan ini adalah berntuk eksopose (espository) yang lazim dipergunakan dalam kuliah-kuliah tradisional, biasanya lebih bersifat komunikasi satu arah, dan bentuk penggalian (inquiry) yang lebih mengutamakan partisipasi siswa dalam proses belajar-mengajar. Dalam pengertian instruksional yang sempit, metode ini merupakan rencana yang sistematis untuk menyajikan pesan atau informasi instruksional.

5) Pengelompokan belajar (Organization of groups)

          Setelah menentukan pendekatan dan metode, pengajar harus mulai merencanakan bagaimana kelompok belajar akan diatur. Pendekatan yang menghendaki kegiatan belajar secara mandiri dan bebas (independent study) memerlukan pengorganisasian yang berbeda dengan pendekatan yang memerlukan banyak diskusi dan partisipasi aktif siswa dalam ruang yang kecil, atau untuk mendengarkan ceramah dalam ruang yang luas.

6) Menentukan pembagian waktu (Allocation of times)

         Pemilihan strategi dan teknik untuk ukuran kelompok yang berbeda-beda tersebut mau tidak mau akan memaksa pengajar memikirkan penggunaan waktunya, yaitu apakah sebagian besar waktunya harus dialokasikan untuk presentasi atau pemberian informasi, untuk pekerjaan laboratorium secara individual, atau untuk diskusi. Mungkin keterbatasan ruangan akan menuntut pengaturan yang berbeda pula karena harus dipecah ke dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil.

7) Menentukan ruang (Allocation of space)

        Sesuai dengan tiga alternative pengelompokan belajar seperti pada no.5, alokasi ruang ditentukan dengan menjawab apakah tujuan belajar dapat dipakai secara lebih efektif dengan belajar secara mandiri dan bebas, berinteraksi antarsiswa, atau mendegarkan penjelasan dan bertatap muka dengan pengajar.

8) Memilih media instruksional yang sesuai (Allocation of Resources)

           Pemilihan media ditentukan menurut tanggapan siswa yang disepakati. Jadi tidak sekadar yang dapat memberikan stimulus rangsangan belajar. Gerlach dan Ely mambagi media sebagai sumber belajar ini ke dalam lima katergori, yaitu: (a) manusia dan  benda nyata, (b) media visual proyeksi, (c) media audio, (d) media cetak, dna (e) media display.

9) Mengevaluasi hasil belajar (evaluation of performance)

              Kegiatan belajar adalah interaksi antara pengajar dan siswa, interaksi antara siswa dan media instruksional. Hakiakat belajar adalah perubahan tingkah laku belajar pada akhir kegiatan instruksional. Semua usaha kegiatan pengembangan instruksional di atas dapat dikatakan berhasil atau tidak setelah tingkah laku akhir belajar tersebut dievaluasi. Instrumen evaluasi dikembangkan atas dasar rumusan tujuan dan harus dapat mengukur keberhasilan secara benar dan objektif. Oleh sebab itu, tujuan instruksional harus dirumuskan dalam tingkah laku belajar siswa yang terukur dan dapat diamati.

Gerlach dan Ely membagi media sebagai sumber belajar menjadi 5 kategori:
a. Manusia dan benda nyata
b. Media visual proyeksi
c. Media audio
d. Media cetak
e. Media display

10) Menganalisis umpan balik (analisys of feedback)

                  Analisis umpan balik merupakan tahap terakhir dari pengembangan sistem instruksional ini. Data umpan balik yang diperoleh dari evaluasi, tes, observasi, maupun tanggapan-tanggapan tentang usaha-usaha instruksional ini menentukan, apakah sistem, metode, maupun media yang dipakai dalam kegiatan instruksional tersebut sudah sesuai untuk tujuan yang ingin dicapai atau masih perlu disempurnakan.

            Model pembelajaran Gerlach dan Ely (1971) merupakan suatu metode perencanaan pengajaran yang sistematis. Model ini menjadi suatu garis pedoman atau suatu peta perjalanan pembelajaran karena dalam model ini diperlihatkan keseluruhan proses belajar mengajar yang baik, sekalipun tidak menggambarkan secara rinci setiap komponennya. Dalam model ini juga diperlihatkan hubungan antara elemen yang satu dengan yang lainnya serta menyajikan suatu pola urutan yang dapat dikembangkan dalam suatu rencana untuk mengajar.

            Gerlach dan Ely mengatakan bahwa melalui tes Enteryng Behaviors (kemampuan awal) siswa, guru akan mengetahui apa yang dibawa atau yang telah diketahui oleh siswa terhadap sesuatu pelajaran pada saat (pelajaran) dimulai. Para perancang pembelajaran atau guru dalam mengembangkan satuan pelajaranya dia harus mengetahui; siapa kelompok, populasi, atau sasaran kegiatan pembelajaran tersebut? Perlunya guru atau perancang pembelajaran mengetahui kemampuan awal ini, agar pelaksanaan pembelajaran berjalan efektif, karena pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa terdapat juga pengetahuan yang merupakan prerequisit bagi tugas belajar yang baru. Untuk mengetahui kemampuan awal sekelompok siswa atau mahasiswa perlu diadakan tes awal (pre-test). Tes awal mempunyai fungsi atau tujuan yang berharga dan penting bagi pengembangan suatu pembelajaran. 

Kelebihan model pengembangan desain instruksional pembelajaran Gerlach dan Ely:
1. Sangat teliti dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran
2. Cocok digunakan untuk segala kalangan 

Kekurangan model pengembangan desain instruksional pembelajaran Gerlach dan Ely:
1. Terlalu panjangnya prosedur perancangan desain pembelajaran
2. Tidak adanya tahapan pengenalan karakteristik siswa



Konsep pengembangan desain instruksional pembelajaran Gerlach dan Ely dalam pelajaran sejarah adalah sebagai berikut:

1) Merumuskan tujuan pembelajaran (specification of object)

                  Tujuan pembelajaran sejarah disekolah sesuai dengan kurikulum, yaitu berupa pelajaran tentang pewarisan nilai luhur bangsa, semangat tanah air, nasionalisme dan lain-lain.

2) Menentukan isi materi (specification of content)

            Isi materi sejarah berbeda-beda menurut tingkatan dan kelasnya, namun isi materi pembelajaran harus sesuai dengan tujuan yang hendak dicapainya. Dalam menentukan isi materi sejarah harus diperhatikan batasan dan ruang lingkup materi karena berbeda menurut kelompok dan tingkatan kelas.

3) Menurut kemampuan awal/penilaian kemampuan awal siswa (Assesment of Entering behaviors)

             Tes awal berfungsi untuk memperoleh informasi tentang kemampuan awal siswa dalam pelajaran sejarah, sebelum mendapat materi yang sudah disiapkan oleh seorang guru.

4) Menentukan teknik dan strategi (Determination of strategy)

         sejarah dikaitkan dengan perencanaan ke depan dengan peristiwa masa lalu sebagai  pembanding  ini akan lebih menarik. Masalah yang membosankan tersebut harus dihilangkan  pada mind set anak dalam belajar sejarah, “sudah setiap materinya membosankan di tambah lagi cara mengajar guru juga sangat membosankan. Dalam mengajar sejarah itu guru menggunakan metode yang aktif, kreatif dan inovatif (active learning). Artinya guru tidak menggunakan metode yang tepat untuk setiap materi, jangan disamaratakan setiap materi menggunakan metode yang sama dan siswa diajak untuk melakukan kegiatan itu, siswa jangan hanya mendengarkan cerita guru, hal itu akan membosankan peserta didik, apalagi jika penampilan guru tidak menarik maka lengkaplah sudah bahwa mata pelajaran sejarah  sangat membosankan, sehingga dengan desain ini diharapkan guru dapat membuat siswa tertarik terhadap pelajaran sejarah.

5) Pengelompokan belajar (Organization of groups)

          Membentuk kelompok belajar yang menemukan sendiri sesuai dengan pengalaman masing-masing sesuai dengan tugas materi yang ditetapkan kepada siswa dalam pelajaran sejarah. 

6) Menentukan pembagian waktu (Allocation of times)

      Alokasi waktu harus ditentukan agar sebagian besar waktunya dapat dialokasikan untuk presentasi atau pemberian informasi, untuk pekerjaan observasi di musium secara individual, atau untuk diskusi dalam kelompok tentang materi pelajaran sejarah.

7) Menentukan ruang (Allocation of space)

Dalam pembelajaran sejarah harus diberikan ruang agar dalam proses pembelajaran siswa dapat berinteraksi dengan siswa lain dan juga dengan guru.

8) Memilih media instruksional yang sesuai (Allocation of Resources)

   Media yang dapat digunakan dalam pembelajaran sejarah adalah:
              a. Audio (kaset audio, CD dan siaran radio)
              b. Cetak (buku pelajaran, brosur, modul, leaflet, dan gambar)
              c. Proyeksi visual diam (OHP, film bingkai/slide)
              d. Audio visual gerak (film gerak bersuara, video, TV)

9) Mengevaluasi hasil belajar (evaluation of performance)

   Melakukan evaluasi terhadap hasil belajar siswa baik berupa tes objektif maupun essay yang berguna untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan siswa dalam belajar sejarah di sekolah.

10) Menganalisis umpan balik (analisys of feedback)

   Melakukan perbaikan terhadap proses pembelajaran sejarah baik dari guru ataupun siswa/peserta didik Pendekatan pembelajaran menekankan pada gaya bagaimana menyampaikan materi yang meliputi: sifat, cakupan dan prosedur kegiatan yang memberikan pengalaman (Vermon S. Gerlach dan Donald P. Ely, 1980). Model desain instruksional yang dikembangkan Gerlach dan Ely sangat cocok dengan pelajaran sejarah, sehingga bisa dijadikan sebagai pedoman untuk membuat perencanaan pembelajaran sejarah. 
Desain instruksional diatas merupakan model instruksional yang paling sesuai digunakan dalam pembelajaran sejarah, karena langkah-langkahnya sangat lengkap dan spesifik disamping itu, model juga tidak memiliki batasan tertentu sehingga dapat digunakan dari semua kalangan (umum) walaupun memiliki sejumlah kekurangan.

KESIMPULAN
         
   Model Gerlach dan Ely adalah suatu rumusan Strategi atau sebuah desain pembelajaran yang menfokuskan terkaitnya suatu pola pembelajaran pada elemen pelajaran yang disusun secara sistematis dan membuat sebuah pembelajaran semakin menyenangkan, desain ini jangan hanya dianggap sebagai suatu bahan bacaan namun juga kita jadikan pedoman dalam memulai sebuah aktifitas pembelajaran yang efektif dan efisien, selain desain Gerlach dan Ely ini sangat ter struktur Desain Pembelajaran ini juga memberikan ruang kepada siswa dalam memaknai setiap pembelajaran yang ia dapat di sekolah dan dapat mengaplikasikan sebuah pembelajaran yang ia dapat tidak hanya di sekolah namun juga di dalam kehidupan nya sehari – hari.

Referensi

http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/196209061986011-AHMAD_MULYADIPRANA/POWER_POINT/MODEL_PEMBELAJARAN_GERLACH_%26_ELLY_%5BCompatibility_Mode%5D.pdf

Selasa, 13 September 2016

SUDAH SENAM DI SEKOLAHMU ?

SENAM YUK DI SEKOLAH

Senam merupakan Olahraga yang populer dikalangan masyarakat khususnya bagi kaum perempuan karena Olahraga senam ini sangat bermanfaat bagi kesehatan selain itu senam juga dapat dilakukan di luar maupun di dalam ruangan yang tidak terlalu luas. - Jenis-Jenis senam -
Pengertian Senam menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut :

Imam Hidayat (1982:2) menyatakan bahwa Senam merupakan suatu latihan tubuh yang dipilih dan diciptakan dengan sengaja dan berencana, disusun secara sistematis dengan tujuan membentuk dan mengembangkan pribadi secara harmonis.


Agus Mahendra (2001:2)
 menyatakan bahwa Senam adalah suatu latihan tubuh yang dipilih dan dikonstruk dengan sengaja, dilakukan secara sadar dan terencana, disusun secara sistematis dengan tujuan meningkatkan kesegaran jasmani, mengembangkan Keterampilan dan menanamkan nilai-nilai mental spiritual.
Pada saat ini banyak sekali bermunculan bermacam-macam Jenis-jenis senam mulai dari senam kesehatan Jasmani (SKJ), Senam Pagi, Senam Pernafasan, Senam Jantung dll. setiap senam memiliki gerakan yang sistematis dan sengaja dibuat serta memiliki tujuan tertentu, namun yang akan saya ulas ialah senam apa saja yang mungkin bisa di masukan kedalam daftar kegiatan di sekolah yang pastinya membuat sekolah menjadi sehat.
Senam ini merupakan olahraga yang sangat mengandalkan aktifitas gerak karena itu senam juga sering dilakukan kaum wanita yang ingin memperoleh tubuh yang indah. 

 berikut ini adalah beberapa Jenis-jenis Senam diantaranya :

 

1. Senam Artistik (Artistic Gymnastic) 

Senam Artistik merupakan  senam yang  memiliki gerakan yang cepat dan Eksplosif, pada umum nya Senam ini menonjulakan gerakan kelentukan dan keseimbangan dengan gerakan yang relatif lambat dan terkontrol yang akan menghasilkan gerakan yang indah dan mengejutkan bagi semua yang melihat.
Tidak ada salahnya jika senam ini di masukan dalam daftar kegiatan eskul di sekolah.

 

2. Senam Akrobatik ( Acrobatic Gymnastic) 

Senam Akrobatik ini merupakan jenis senam yang sangat mengandalkan Kelentukan dan Keseimbangan dan memiliki gerakan yang cepat dan Eksplosif, senam ini banyak biasanya memiliki gerakan-gerakan yang berbahaya seperti Salto dan putaran sehingga untuk melakukan senam akrobatik ini sangat dianjurkan didampingi oleh Instruktur senam Akrobatik.

 

3. Senam Ritmik Sportif (Sportive Ritmik Gymnastic)

Senam Ritmik ini adalah Senam yang dilakukan dengan mengikuti tuntunan musik tertentu sehingga senam ini akan menghasilkan gerakan tubuh yang indah, biasanya senam ritmik ini menggunakan peralatan seperti pita agar menambah keindahan gerak pesenam.

 

4. Senam Aerobik ( Sport Aerobic)

Senam Aerobik adalah senam yang memiliki serangkaian gerak yang telah dipadukan dengan Irama Musik yang telah dipilih dengan durasi tertentu, Aerobik duga mengandung pengertian suatu sistem latihan fisik yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pemasukan Oksigen di dalam jaringan tubuh, karena pemasukan Oksigen didalam tubuh kita ditentukan oleh kapasitas maksimal Paru-paru saat mengirup udara. Bagi Sobat yang ingin menjaga kesehatan Jantung dan Paru-paru maka lakukanlah senam Aerobik ini secara teratur.    

 

5. Senam Trampolin ( Trampolinning) 

Senam Trampolin adalah pengembangan dari suatu latihan senam yang dilakukan diatas trampolin, yaitu dengan menggunakan sejanis pemantul yang memiliki daya pantul yang sangat besar.

 

6. Senam Umum (General Gymnastic) 

Senam Umum ini merupakan segala jenis senam diluar senam yang telah saya cantumkan diatas.
Diantara jenis Senam diatas terdapat satu jenis Senam yang sangat pupoler dikalangan Masyarakat yaitu Senam Kesegaran Jasmani (SKJ). Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) ini merupakan sebuah rangkaian gerakan Senam yang diiringi musik tertentu yang bertujuan unutk meningkatkan dan mempertahankan kesegaran dan kebugaran Jasmani dan Rohani. Senam SKJ ini mampu meningkatkan kinerja jantung dan paru-paru secara optimal dan melenturkan Otot-otot. untuk menjaga tubuh agar tetap sehat dan bugar sebaiknya senam SKJ ini dilakukan pada pagi hari sebalum melakukan Aktivitas karena dapat menjadikan badan Sehat dan Bugar.

Perbanyak Kosakata Peserta Didik Dengan WORD SQUARE

MODEL PEMBELAJARAN WORD SQUARE
Pengertian 
Model pembelajaran Word Square merupakan pengembangan dari metode ceramah yang diperkaya. Hal ini dapat diidentifikasi melalui pengelompokkan metode ceramah yang diperkaya yang berorientasi kepada keaktifan siswa dalam pembelajaran sebagaimana disebutkan oleh Mujiman (2007)

Model Pembelajaran Word Square merupakan model pembelajaran yang memadukan kemampuan menjawab pertanyaan dengan kejelian dalam mencocokan jawaban pada kotak-kotak jawaban. Mirip seperti mengisi  Teka-Teki Silang tetapi bedanya jawabannya sudah ada namun disamarkan dengan menambahkan kotak tambahan dengan sembarang huruf/angka penyamar atau pengecoh. Model pembelajaran ini sesuai untuk semua mata pelajaran.Tinggal bagaimana Guru dapat memprogram sejumlah pertanyaan terpilih yang dapat merangsang siswa untuk berpikir efektif. Tujuan huruf/angka pengecoh bukan untuk mempersulit siswa namun untuk melatih sikap teliti dan kritis.

Word Square merupakan salah satu dari sekian banyak metode pembelajaran yang dapat dipergunakan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran. Metode ini merupakan kegiatan belajar mengajar dengan cara guru membagikan lembar kegiatan atau lembar kerja sebagai alat untuk mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang telah diajarkan. 

Instrument utama metode ini adalah lembar kegiatan atau kerja berupa pertanyaan atau kalimat yang perlu dicari jawabannya pada susunan huruf acak pada kolom yang telah disediakan.
·         Langkah-Langkah Model Pembelajaran Word Square
Langkah-langkah Model Pembelajaran Word Square adalah sebagai berikut :

1.      Guru menyampaikan materi sesuai kompetensi yang ingin dicapai.
2.      Guru membagikan lembaran kegiatan sesuai contoh.
3.      Siswa menjawab soal kemudian mengarsir huruf dalam kotak sesuai jawaban secara vertikal, horizontal maupun diagonal.
4.      Berikan poin setiap jawaban dalam kotak.

CONTOH JAWABAN (Untuk Mapel PKn)
S
Y
E
N
I
E
K
K
K
A
G
U
A
N
D
M
E
N
N
B
A
R
T
I
R
T
D
G
A
N
R
N
R
S
U
S
U
D
G
T
U
T
G
R
Z
I
O
O
L
S
A
I
U
I
N
R
P
A
I
P
A
N
F
I
A
S
O
L
I
O
A
U
S
R
I
N
H
B
C
N
U

CONTOH SOALNYA :
1.      Asas dalam menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan tempat orang tersebut dilahirkan disebut asas…
2.      Negara Indonesia memakai asas kewarganegaraan berdasarkan keturunan yang disebut asas ius…
3.      Seseorang yang mempunyai dua kewarganegaraan dari  dua Negara yang berbeda disebut...
4.      Hak dimiliki seseorang untuk memilih kewarganegaraannya disebut hak...
5.      Penentuan kewarganegaraan seseorang berdasarkan kelahiran dan…

·         Kekurangan dan Kelebihan Model Pmebelajaran Word Square
Beberapa kelebihan dari model pembelajaran Word Square yaitu:
1.      Kegiatan tersebut mendorong pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. 
2.      Melatih untuk berdisiplin.
3.      Dapat melatih sikap teliti dan kritis.
4.      Merangsang siswa untuk berpikir efektif.

Model pembelajaran ini mampu sebagai pendorong dan penguat siswa terhadap materi yang disampaikan. Melatih ketelitian dan ketepatan dalam menjawab dan mencari jawaban dalam lembar kerja. Dan tentu saja yang ditekankan disini adalah dalam berpikir efektif, jawaban mana yang paling tepat.

Sedangkan beberapa kekurangan dari model pembelajaran word square yaitu:
1.      Mematikan kreatifitas siswa. 
2.      Siswa tinggal menerima bahan mentah.
3.      Siswa tidak dapat mengembangkan materi yang ada dengan kemampuan atau potensi yang dimilikinya.
Dalam model pembelajaran ini siswa tidak dapat mengembangkan kreativitas masing-masing, dan lebih banyak berpusat pada guru. Karena siswa hanya menerima apa yang disampaikan oleh guru, dan jawaban dari lembar kerja pun tidak bersifat analisis, sehingga siswa tidak dapat menggali lebih dalam materi yang ada dengan model pembelajaran word square ini.

Dari penjelasan tentang model pembelajaran word square maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran word square adalah suatu pengembangan dari metode ceramah namun untuk mengetahui pemahaman siswa tentang materi yang telah disampaikan maka diberikan lembar kerja yang didalamnya berisi soal dan jawaban yang terdapat dalam kotak kata. Membutuhkan suatu kejelian dan ketelitian dalam mencari pilihan jawaban yang ada dengan tepat. Namun sebagaimanan model pembelajaran yang lainnya, model pembelajaran word square mempunyai kekurangan dan kelebihan. Kekurangan dari model pembelajaran ini yaitu siswa hanya menerima bahan mentah dari guru dan tidak dapat mengembangkan kreativitasnya, karena siswa hanya dituntut untuk mencari jawaban bukan untuk mengembangkan pikiran siswa masing-masing. Sedangkan kelebihannya yaitu meningkatkan ketelitian, kritis dan berfikir efektif siswa. Karena siswa dituntut untuk mencari jawaban yang paling tepat dan harus jeli dalam mencari jawaban yangada dalam lembar kerja.